Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Iklan

Wahyu Hidayah: Sinergi Penyuluh dan Petani Muda Kunci Transformasi Pertanian Kuningan

Redaksi
Jumat, 24 Oktober 2025
Last Updated 2025-10-24T02:53:07Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

KUNINGAN - CIREMAIPOS.COM,-
Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) terus berkomitmen memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan produktivitas sektor pertanian. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan Temu Teknis Peningkatan Produksi bertema “Teknologi Pertanian Berkelanjutan Berbasis Spesifik Lokalita sebagai Upaya Peningkatan Produksi”, yang digelar di Aula UPTD Ketahanan Pangan dan Pertanian Kuningan, Kamis (23/10/2025).

Kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi para penyuluh dan petani untuk memperkuat kolaborasi, mendorong inovasi, serta mempercepat penerapan teknologi pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Acara tersebut dihadiri oleh Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Kuningan sekaligus Kepala Diskatan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si, didampingi Plt. Kabid Penyuluhan Sopyan Pamungkas, S.Hut., M.Si, Ketua KTNA Kento S, serta para penyuluh pertanian dari berbagai wilayah di Kuningan.

Dalam sambutannya, Dr. Wahyu Hidayah menyampaikan apresiasi atas dukungan Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura (DTPH) Provinsi Jawa Barat yang terus berperan aktif dalam peningkatan kapasitas penyuluh dan mutu pertanian di daerah.
“Alhamdulillah, kita mendapat dukungan penuh dari DTPH Provinsi Jawa Barat untuk meningkatkan kualitas dan kemampuan penyuluh di Kuningan. Selain itu, ada kabar baik, harga pupuk subsidi mengalami penurunan sebagai bagian dari strategi nasional memperkuat ketahanan dan swasembada pangan,” ujar Wahyu.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tahun ini Kuningan mendapat program Optimalisasi Lahan (Oplah) yang bertujuan meningkatkan indeks pertanaman (IP). Melalui program tersebut, pemerintah memberikan stimulan pengolahan lahan sebesar Rp900 ribu per hektare kepada petani, dengan total sasaran 2.200 hektare lahan produktif di seluruh wilayah kabupaten.

Wahyu juga menekankan pentingnya sinergi antara penyuluh, petani muda, dan kelembagaan petani dalam mempercepat transformasi pertanian berbasis teknologi. Ia menilai, regenerasi petani menjadi prioritas strategis agar sektor pertanian tetap berkelanjutan dan berdaya saing.

Dalam kesempatan itu, Wahyu memaparkan beberapa program inovatif unggulan yang digagas Pemkab Kuningan, di antaranya Program AMRAN SULAIMAN dan Program MAS DAR.

Program AMRAN SULAIMAN (Akselerasi Modernisasi Pertanian Melalui Distribusi Alsintan Satu Layanan Alsintan Integratif untuk Meningkatkan Indeks Pertanaman) bertujuan mempercepat modernisasi sistem pertanian melalui distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan) yang merata dan terintegrasi antara UPTD dan BPP. Dengan sistem ini, efisiensi waktu tanam meningkat dan cakupan lahan produktif dapat diperluas.

Sementara Program MAS DAR (Mandiri Pangan Satu Desa Satu Traktor) difokuskan untuk mendorong kemandirian pangan di tingkat desa dengan menyediakan minimal satu unit traktor di setiap desa sebagai sarana utama pengolahan lahan.
“Melalui Program MAS DAR, setiap desa diharapkan mampu mengolah lahannya sendiri tanpa ketergantungan pada pihak luar. Ini langkah nyata membangun kemandirian pangan dari desa demi memperkuat ketahanan pangan nasional,” jelasnya.

Selain itu, Wahyu juga menyoroti pentingnya pembentukan Brigade Pangan sebagai gerakan kolektif dalam menumbuhkan semangat petani muda.
“Program ini sudah kami dorong sejak Jambore Penyuluh Pertanian. Saat itu saya menantang para penyuluh untuk membentuk Brigade Pangan di wilayahnya masing-masing. Sosialisasikan kepada petani muda agar ikut bergerak, karena dari sinilah lahir regenerasi petani yang kita harapkan,” tegasnya.

Menutup arahannya, Wahyu meminta seluruh UPTD dan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) menindaklanjuti hasil temu teknis dengan langkah nyata di lapangan, terutama dalam penerapan teknologi spesifik lokalita sesuai kondisi agroklimat wilayah masing-masing.
“Penerapan teknologi pertanian berkelanjutan harus mampu meningkatkan produktivitas minimal dua kali lipat tanpa merusak lingkungan. Setiap wilayah harus punya model teknologi berbasis lokalita yang bisa direplikasi,” pungkasnya.

/Moris
iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl