Jelajahi

Kategori
Best Viral Premium Blogger TemplatesPremium By Raushan Design With Shroff Templates

Iklan

Kontur Cekungan dan Minim Vegetasi, Kawasan Arunika Terancam Bencana Musim Hujan

Redaksi
Selasa, 02 Desember 2025
Last Updated 2025-12-02T12:33:22Z
Premium By Raushan Design With Shroff Templates
masukkan script iklan disini

KUNINGAN - CIREMAIPOS.COM,-
Kawasan Cigugur Cisantana kembali disorot menyusul munculnya indikasi kerawanan bencana yang kian mengkhawatirkan. Ketua Gibas Resort Kuningan memberikan peringatan keras mengenai potensi banjir bandang dan tanah longsor di koridor wisata Arunika.

Pada sisi kiri jalan menuju Arunika, terbentang area cekungan alami yang saat ini dimanfaatkan untuk kegiatan wisata dan pertanian. Secara morfologi, wilayah ini berada pada posisi rendah sehingga menjadi area tangkapan limpasan air hujan dari perbukitan di sekelilingnya.

“Cekungan ini menerima aliran air dari berbagai arah. Bila intensitas hujan tinggi, air akan berkumpul dengan cepat dan berpotensi menimbulkan banjir besar, bahkan banjir bandang,” ujar Ketua Gibas Kuningan kepada wartawan. Selasa (2/12/2025)

Ia menilai kondisi tersebut diperparah oleh minimnya vegetasi penyangga tanah. Tutupan tanaman yang hilang akibat alih fungsi lahan membuat struktur tanah semakin rentan. Ketika hujan turun deras, laju aliran permukaan meningkat dan memperbesar risiko erosi maupun runtuhan tanah.

Adanya titik tanah longsor di bawah kawasan Sukageuri View. Visual tersebut menjadi indikator bahwa beban lahan di area wisata perbukitan ini mulai mengkhawatirkan. Menurutnya, longsoran itu bukan peristiwa tunggal, melainkan sinyal alam bahwa kawasan tersebut membutuhkan penanganan serius.

“Arah limpasan air sudah jelas dari lereng menuju cekungan bawah. Jika tidak ada langkah mitigasi signifikan, kawasan ini hanya menunggu waktu untuk mengalami bencana besar,” tegasnya.

Ketua Gibas menyoroti bahwa pengembangan wisata di Cigugur Cisantana selama ini tidak diimbangi dengan penguatan ekologi. Minimnya analisis risiko, lemahnya kontrol alih fungsi lahan, serta terbatasnya ruang hijau mempertinggi ancaman terhadap warga, pengunjung, maupun pelaku usaha.

Ia meminta pemerintah daerah, pengelola wisata, dan masyarakat agar segera melakukan penguatan vegetasi, perbaikan drainase alami, serta audit tata ruang sebelum musim hujan mencapai puncaknya.

“Kami bukan menolak pembangunan. Tapi pembangunan harus selaras dengan keselamatan lingkungan dan masyarakat. Jangan sampai satu hujan besar mengubah kawasan ini menjadi titik bencana,” pungkasnya.

/Red

iklan
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Stars Rally to Beat Predators in Winter Classic at Cotton Bowl